Tuai Pro Kontra, Wanita Asal Solo Ini Pakai Cadar Saat Nge-DJ, Videonya Jadi Viral

Biasanya, dunia DJ itu identik dengan adanya perempuan seksi.

Serta, berada di tempat-tempat khusus.

Acara live DJ tidak bisa dinikmati sembarang orang.

Tapi, kalau ada DJ memakai hijab dan bercadar, bagaimana menurutmu?

Channel Youtube Trends Indonesia mengunggah video seorang wanita bercadar sedang memainkan musik elektronik, Jumat (17/3/2017).

Melansir TribunWow.com, DJ tersebut bernama Ariska Wigatiningtyas atau biasa dikenal sebagai Chika Riska (DJ Chikariska).

DJ Chikariska merupakan seorang mahasiswa jurusan farmasi, di sebuah universitas di Solo.

 Perempuan asal Solo itu mengaku, video tersebut terjadi saat tahun baru 2017 di Yogyakarta.

“Sebenarnya masalah ini sudah viral dua bulan yang lalu, pada bulan Januari. Saya sudah klarifikasi melalui Instagram saya, dan setelah itu, sudah mereda. Tapi, saya nggak tahu kenapa ini viral lagi,” ungkapnya.

Chika Riska juga hanya mengenakan cadar selama dua kali.”Sebenarnya, saya memakai cadar baru dua kali, yang pertama acara DIKA di pabrik gula Colomadu, Solo, saat itu, saya mengambil tema Arabic Indian, yang kedua yang di Jogja, acara Tahun Baru Loop Station,” tutur DJ Chika.

Acara tersebut merupakan acara yang digelar dari Badan Kreatif Indonesia, yang diketuai seorang profesor ISI.

Menurutnya, acara tersebut juga merupakan acara yang hanya menampilkan karya seni, dan memang bertema Arabic Indian.

Meski dirinya berhijab, dan terkadang bercadar, dirinya mengaku, respons masyarakat positif saat dirinya bermain.

Melihat video itu, netizen ada yang mencibir.

Niatnya apa tuh cwe kira”.. becadar tp joged dugem gtu, yg pntes duduk di majelis neng.. malu nh yg bener” cadaran,,” komentar Hasyim Asbullah.

Kerja di tmpat yg layak msh bnyak,” komentar bayu moerty.

Merusak citra islam banget bukan kah hijab dan cadar melindungi buat maksiad lah ini gada malu malunya,” komentar Risti Smada.

Ada pula netizen yang berpikir positif.

Ketika musik katanya universal, kenapa tampilan luarnya yg kalian masalahin? trus penyanyi dangdut dan personilnya yg berhijab kalian diemin karna dangdut asli dari indonesia? padahal jelas mereka geal-geolin pinggul! think more please,” komentar Time Lapse.

Aku melihatnya positif aja selama dia tidak minum minuman keras, memakai narkoba, membuka auratnya,” komentar Reni Herawati.

 

 

Universitas Mataram menilai tindakan Dosen Fakultas Teknik Universitas Mataram Sabar Nababan yang mengaku Tuhan dan mendeklarasikan agama baru bernama Angkasa Nauli, mencoreng nama institusi. Terhitung sejak Selasa (21/3), Nababan pun telah dibebastugaskan dari segala aktivitas mengajar di kampus.

Rektor Unram Prof Sunarpi kepada Lombok Post kemarin mengatakan, apa yang telah diperbuat Nababan adalah perkara serius dan bukan remeh temeh. Namun begitu, agar objektif, pihaknya juga akan memverifikasi informasi yang menyebutkan bahwa Nababan mengalami gangguan jiwa.

“Kita akan mengumpulkan bukti-bukti apakah Pak Sabar Nababan memang benar-benar gangguan jiwa,” kata Sunarpi, kemarin (22/3).

Sunarpi menegaskan, sebagai rektor dirinya tidak bisa melakukan tindakan arogan kepada Nababan. Karena itu, Nababan kata dia diberi waktu berobat hingga sembuh selama enam bulan. Setelah itu, kondisinya akan dievaluasi kembali oleh universitas.

Untuk diberhentikan dari statusnya sebagai dosen pun, kata Sunarpi tak serta merta bisa dilakukan. Tetap memerlukan tahapan, antara lain pengumpulan bukti-bukti soal status kejiwaannya.

Hanya saja, kemungkinan proses tindakan dari universitas akan lebih cepat, manakala Sabar nantinya terus melakukan hal yang aneh dengan meresahkan masyarakat. Kalau ini terjadi, maka ancaman pemecatan pun menjadi salah satu opsi yang bisa diambil universitas.

“Ini sesuai dengan PP nomor 53 tentang kedisiplinan guru dan dosen serta kode etik dosen,” kata Sunarpi.

Unram saat ini tengah menyiapkan tim pengawasan untuk Nababan. Tim akan melibatkan Fakultas Kedokteran Unram. Sebab, bagi Sunarpi, Nababan kini bukan hanya meresahkan masyarakat, namun juga sudah mencemarkan nama institusi karena ulahnya.

Andai bernat mengalami gangguan jiwa namun mau menjalani pengobatan dengan baik untuk pemulihan, maka itu akan menjadi pertimbangan universitas. Sebaliknya, jika terus meresahkan masyarakat dengan membuat ulah seperti sekarang, kemungkinan besar Unram akan memecatnya. “Kalau sampai enam bulan nanti tidak ada perubahan maka akan kita pecat,” tegas Rektor.

Selama ini aku Sunarpi, Nababan memang diduga mengalami gangguan jiwa. Namun, tidak separah seperti sekarang ini karena dia (Sabar, Red) terus menerus minum obat. Bahkan ia pun tidak pernah ada masalah ketika mengajar. Gangguan jiwa kian parah karena Nababan tidak lagi mau minum obat. “Ini yang terjadi ketika dipulangkan paksa saat menyelesaikan S3 di Bangkok,” terangnya.

Tapi tambah Rektor, setelah kembali ke Unram Nababan tidak menunjukkan hal yang aneh-aneh. Sehingga Dekan Fakultas Teknik memberikan lampu hijau agar Sabar kembali mengajar. “Kalau sekarang kita akan awasai betul. Kalau tidak ada perubahan mau tak mau kita harus memberhentikan,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Badan Kesatuan Bangsa Politik Dalam Negeri NTB HL Syafi’i meminta agar masyarakat tidak terlalu berlebihan menanggapi tingkah Nababan. Dia mengatakan, dari surat keterangan yang didapatkan Pemprov NTB, Nababan mengalami gangguan jiwa. Sehingga pihaknya meminta dirawat di Rumah Sakit Jiwa (RSJ), dan meminta pihak Universitas Mataram untuk sementara waktu mengistirahatkan pria tersebut.

Selain itu , ia juga meminta kepada keluarga dan sahabat terdekat, romo pendeta dan pihak gereja HKBP Mataram mendampingi Nababan agar perawatan bisa maksimal. Kepada pihak RT/RW dan lingkungan setempat harus memberitahukan kepada warga yang lain bahwa yang bersangkutan dalam kondisi sakit.

”Jadi tidak perlu ditanggapi berlebihan,” ujar mantan Kadis Dikpora ini.

Berdasarkan hasil rapat dengan semua pihak, tokoh agama dan pemerintah setempat pada Selasa (21/3) kata Syafi’i juga telah disepakati agar akun facebook Angkasa Nauli dihapus, sehingga tidak menimbulkan keresehatan di tengah masyarakat.

Sebelumnya, Pembimbing Masyarakat Kristen, Kantor Wilayah Kemeterian Agama NTB Antonius Lopis membenarkan, Sabar Nababan sebelumnya merupakan anggota gereja HKBP di Mataram, dan dia tercatat aktif sebagai anggota jamaat, sering membatu pelayanan ibadah umat Kristen di gereja pada hari Minggu.

Terkait, agama baru yang dideklarasikannya Antonius menegaskan, tidak ada kaitannya dengan agama Kristen, hanya saja ia menggunakan istilah-istilah yang ada di dalam agama Kristen. Seperti seluruh umat Kristen meyakini bahwa Tuhan Yesus yang akan menjadi Juru Selamat, tetapi di dalam facebook Sabar Nababan menyebut dirinya sebagai Tuhan dan Juru Selamat.

Umat Kristen sebenarnya marah dengan apa yang dilakukan, tetapi karena kondisi Sabar Nababan yang sakit, maka umat Kristen dan para pendeta bisa memaklumi. Maka langkah yang akan dilakukan ke depan adalah berupaya menyembuhnya secara total sampai publih betul. (jay/ili/r8)